Wah.. ternyata para personil OVJ itu multitalent ya..
Berbakat banget jadi apa aja...
kira kira jadi apa sajakah mereka ???
check This Out...!!!



heheheh





Wah.. ternyata para personil OVJ itu multitalent ya..
Berbakat banget jadi apa aja...
kira kira jadi apa sajakah mereka ???
check This Out...!!!








Banyak sekali acara komedi bermunculan di tv-tv indonesia, entah itu sebuah sitkom, variety show dll. Namun ada tiga acara komedi yang paling mendapat rating tinggi. Saya akan menguraikan lebih lanjut tentang ketiga acara tersebut :
1. Srimulat
Saya tidak tahu banyak sih tentang srimulat, maklum lah sewaktu masa-masa kemeasan srimulat saya masih bayi, hehehe. Tapi setelah googling kesana sini saya akan menjelaskan sedikit tentang sebuah acara komedi yang bisa dibilang cukup melegenda di indonesia.
Srimulat ini sangat panjang sejarahnya, didirikan oleh teguh slamet rahardjo di tahun 1950, srimulat mengalami pasang surut kejayaannya. Dan sempat disiarkan oleh Indosiar.
Tema paling sering diangkat dalam pementasan berpusar pada kehidupan keluarga. Ada majikan (suami dan istri), anak, dan pembantu. Mulai percintaan hingga cerita berlatar horor selalu dikemas dengan komedi. Sesekali Srimulat menampilkan bintang tamu (biasanya aktris) untuk melakonkan salah satu peran. Secara umum ciri khas grup Srimulat terletak pada pemutarbalikan logika, dan kelihaian memperpanjang suatu bahasan yang disisipi lelucon.
2. Ketoprak Humor
Ketoprak humor disiarkan oleh RCTI, mengangkat tema kesenian jawa, ketoprak humor cukup sukses menghibur para penonton tentunya dengan memasukkan lebih banyak unsur komedi. Para pemainnya mayoritas adalah orang yang terbilang komedian kawakan di indonesia.
Tema cerita yang ditampilka ketoprak humor biasanya mengangkat cerita tentang legenda, khususnya tentang jawa. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.
3. Extravaganza
Ini dia salah satu variety show yang cukup populer di indonesia, Mengmbil unsur humor modern extravaganza cukup sukses menarik perhatian para penggemarnya, apalagi didukung dengan pemain-pemain yang berbakat mongocok perut kita semua, seperti aming, ronald surapraja, tora sudiro dll.
Extravganza hadir di trans tv dengan rating yang sangat baik. Saat masa kejayaannya dulu, extravaganza selalu ditunggu-tunggu oleh penonton (saya juga seh, tiap malam minggu selalu nongkrong di depan tv, hehehe)
Bisa dibilang extravaganza Sebagai salah satu acara komedi yang bertema kan modern yang menjadi awal dari acara sejenis lainnya.
4. Opera Van Java
Nah.. ini dia yang lagi hot2nya sekarang, opera van java atau yang disingkat ovj, merupakan suatu hasil karya anak bangsa yang patut di acungi jempol, saat ini ovj bisa dibilang merajai acara komedi di televisi indonesia.
Ovj bisa dibilang mirip dengan ketoprak humor, dengan nuansa jawa yang begitu kental, tapi alur cerita yang sering dibawakan tidak sebatas cerita atau legenda seperti hal nya ketoprak humor. Ovj juga sering menampilkan sketsa tentang cerita kehidupan sehari hari. Kalau saya menyebut OVj sebagai reinkarnasi nya ketoprak humor, atau bisa juga disebut Ketoprak humor modern ( setuju ?? ).
Ovj pun semakin komplit dengan para pemain yang sudah tidak bisa diragukan lagi keahliannya dalam menghibur pemirsa, ada Pelawak senior seperti Parto dan nunung, pelawak bertalenta seperti sule dan azis gagap, bahkan juga pelawak dadakan yaitu andre taulani.
Pertanyaannya sampai kapan Ovj akan eksis ? mudah mudahan bisa melegenda seperti halnya srimulat.
Berhubung saya dulu sempat belajar di pesantren, sekarang saya akan coba mempostingkan sejarah munculnya pesantren di Indonesia tentunya.
Secara terminologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah digunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu.
Setelah Islam masuk dan tersebar di indonesia,sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam. Istilah pesantren sendiri seperti halnya istilah mengaji, langgar, atau surau di Minangkabau, Rangkang di Aceh bukan berasal dari istilah Arab, melainkan India (Karel A Steenbrink, 1986)
Namun bila kita menengok waktu sebelum tahun 60-an, pusat-pusat pendidikan tradisioanal di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan pondok, barangkali istilah pondok berasal dari kata Arab funduq, yang berarti pesangrahan atau penginapan bagi para musafir.
Kata pesantren sendiri berasal dari akar kata santri dengan awalan "Pe" dan akhiran "an" berarti tempat tinggal para santri. Profesor (Zamakhsari;1983) berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti Guru mengaji
Potret Pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Asrama untuk para siswa tersebut berada dalam komplek pesantren dimana kyai bertempat tinggal. Disamping itu juga ada fasilitas ibadah berupa masjid. Biasanya komplek pesantren dikelilingi dengan tembok untuk dapat mengawasi arus keluar masuknya santri. Dari aspek kepemimpinan pesantren kyai memegang kekuasaan yang hampir-hampir mutlak.
Pondok, Masjid, santri, kyai dan pengajaran kitab-kitab klasik merupakan lima elemen dasar yang dapat menjelaskan secara sederhana apa sesungguhnya hakikat pesantren.
Mengapa pesantren dapat survive sampai hari ini Ketika lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional peserti pesantren di Dunia Islam tidak dapat bertahan menghadapi perubahan atau modernitas sistem pendidikannya.
Secara implisit pertanyaan tadi mengisyaratkan bahwa ada tradisi lama yang hidup ditengah-tengah masyarakat Islam dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan.
Disamping itu, bertahannya pesantren karena ia tidak hanya identik dengan makna ke-Islaman tetapi karakter eksistensialnya mengandung arti keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai indigenous, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya. Ada satu hipotesa bahwa jika kita tidak mengalami penjajahan, mungkin pertumbuhan sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren-pesantren. Sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak akan berupa ITB, UI, IPB, UGM, UNAIR ataupun lainnya tetapi mungkin namanya Universitas Tremas, Krapyak, Tebuireng, Bangkalan, Lasem, dan seterusnya. Kemungkinan ini bisa kita tarik setelah melihat dan membandingkan dengan sistem pendidikan di Barat sendiri. Dimana hampir semua Universitas terkenal cikal bakalnya adalah perguruan-perguruan yang semula berorientasi keagamaan. Mungkin juga bila kita tidak pernah dijajah, kebanyakan pesantren tidak akan berada jauh terpencil di pedesaaan seperti kita lihat sekarang.
Dari keterangan sederhana ini saja kita dapat menarik garis linear tentang apa peranan pesantren dan dimana letak pendidikan pesantren dalam masyarakat Indonesia merdeka. Untuk bangsa yang lebih berkepribadian. Gambaran konkretnya dapat dianalogikan sebua pesantren Indonesia (ambil sebagai misal Tebuireng) sebagai sebuah kelanjutan pesantren di Amerika Serikat (ambil sebagai missal "pesantren" yang didirikan oleh pendeta Harvard di dekat Boston): Tebuireng menghasilkan apa yang dapat dilihat oleh bangsa Indonesia sekarang ini. Dan pesantrennya Pendeta Harvard telah tumbuh menjadi universitas yang paling prestigious di Amerika modern. (Nurcholish Majid, 1997).
Kini di tengah-tengah sistem Pendidikan Nasional yang selalu berubah-rubah dalam jeda waktu yang tidak lama, apresiasi masyarakat Islam Indonesia terhadap pesantren makin hari makin besar, pesantren yang asalnya sebagai Rural Based Institusion kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan urban. Lihatlah kemunculan sejumlah pesantren kota seperti di Jakarta, Bandung, Medan,Pekanbaru, Jogjakarta, Malang, Semarang, Ujung Pandang, atau sub-urban Jakarta seperti Parung, Cilangkap. Atau misalnya pesantren yang muncul pada tahun 1980-an seperti Pesantren Darun Najah, Cianjur, dan Ashidiqiyah di Jakarta; Pesantren Nurul hakim, al-Kautsar, Darul Arafah di Medan,mustafawiyyah Purba Baru di Mandiiling-Natal dan ada disekitarnya sekarang,Darul Hadits Hutabaringin,Darul Ikhlas di Dalan-lidang,dan Pesantren Muara Mais, Darul Hikmah di Pekan Baru dll

Sejarah mencatat bahwa indonesia pernah merasakan persaingan di world cup, itu terjadi pada tahun 1938. Bagaimana sih sebenarnya cerita dibalik tahun 1938 tersebut ?
Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepakbola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB)yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) di tahun 1936milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) punya bangsa Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia. PSSI didirikan oleh Ir. Soeratin Sosrosoegondo pada 19 April 1930 atas dasar semangat nasionalisme. Bisa dibilang, PSSI ingin mengimbangi keberadaan NIVB sebagai representasi gerakan kemerdekaan lewat jalur sepakbola.
Alkisah, Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB)sebuah organisasi sepakbola orang-orang Belanda di Hindia Belandamenaruh hormat kepada Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) lantaran Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB)yang memakai bintang-bintang dari NIVBkalah dengan skor 2-1 lawan Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ)salah satu klub anggota PSSIdalam sebuah ajang kompetisi PSSI ke III pada 1933 di Surabaya. Maka terbukalah mata tuan-tuan bule ini melihat kemampuan olah kulit bundar bumiputra. NIVU yang semula memandang sebelah mata PSSI akhirnya mengajak bekerjasama. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Gentlemen’s Agreement pada 15 Januari 1937. Pascapersetujuan perjanjian ini, berarti secara de facto dan de jure Belanda mengakui PSSI (Palupi, 2004: 75-76). Perjanjian itu juga menegaskan bahwa PSSI dan NIVU menjadi pucuk organisasi sepakbola di Hindia Belanda. Di tahun 1938, Indonesia mendapat undangan dari FIFA untuk berlaga di Piala Dunia Perancis. Salah satu butir di dalam perjanjian itu juga berisi soal pertandingan sepakbola sejagat ini. Butirnya, yakni dilakukan pertandingan antara tim bentukan NIVU melawan tim bentukan PSSI sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia (semacam seleksi tim). Namun, apa lacur, NIVU melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya. Mereka menelikung secara sepihak dan tak tepati janji. Konon, NIVU melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan muka, sebab PSSI pada masa itu memiliki tim yang kuat. Dalam pertandingan internasional, PSSI membuktikannya. Pada 7 Agustus 1937 tim yang beranggotakan, di antaranya Maladi, Djawad, Moestaram, Sardjan, berhasil menahan imbang 2-2 tim Nan Hwa dari Cina di Gelanggang Union, Semarang. Padahal Nan Hwa pernah menyikat kesebelasan Belanda dengan skor 4-0. Dari sini kedigdayaan tim PSSI mulai kesohor.
Atas tindakan culas tuan-tuan kulit putih ini, Soeratinketua PSSI yang juga aktivis gerakan nasionalisme Indonesiasangat geram. Ia menolak memakai nama NIVU. Alasannnya, kalau NIVU diberikan hak, maka komposisi materi pemain akan dipenuhi orang-orang Belanda. Sialnya, FIFA mengakui NIVU sebagai perwakilan dari Hindia Belanda. Akhirnya PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian Gentlemen’s Agreement saat Kongres di Solo pada 1938.
Maka sejarah mencatat mereka yang berangkat ke Piala Dunia Perancis 1938 mayoritas orang Belanda. Mereka yang terpilih untuk berlaga di Perancis, yaitu Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan, dan Achmad Nawir (kapten). Mereka diasuh oleh pelatih sekaligus ketua NIVU, Johannes Mastenbroek. “Mo Heng, Nawir, Soedarmadji adalah pemain-pemain bumiputra yang berhasil memperkuat kesebelasan Hindia Belanda, tetapi bertanding di bawah bendera kerajaan Nederland dan bukan Merah-Putih,” tulis Srie Agustina Palupi dalam bukunya Politik dan Sepak Bola.
Melihat perkembangan sepakbola indonesia saat ini, memang sulit bagi indonesia untuk bisa kembali ke ajang turnamen sepakbola antar negara tersebut. Jadi apakah anda setuju Piala Dunia 1938, menjadi yang terakhir bagi indonesia ?
apa pun opini anda. tetap dukung selalu timnas dimanapun berada. Bravo Sepakbola Indonesia.......
referensi (kompasiana.com)