ROCKET BOYS BOOK

Diposkan oleh Rie_Philosopher di 00.50


Pada suatu malam di bulan Oktober 1957, satelit buatan: Sputnik memasuki orbitnya, sebuah peristiwa yang dinantikan oleh seluruh penduduk kota kecil Coalwood, di Virginia Barat. Bagi penduduk Coalwood yang miskin, menatap sekilas lintasan Sputnik di langit malam Coalwood, hanyalah sebentuk hiburan gratis yang jarang mereka dapatkan. Tapi tidak bagi Homer Hickam, seorang anak buruh tambang batu bara. Penduduk Coalwood memang hidup bergantung dari tambang batu bara, kendati resiko kecelakaan fatal yang kerap kali merenggut nyawa menghantui mereka, belum lagi paru-paru mereka lama-kelamaan akan berlubang karena setiap hari menghirup zat berbahaya di dalam tambang batu bara. Homer begitu terkesan akan Sputnik, sehingga ia lalu memutuskan untuk membuat sendiri tiruan roket. Tadinya, tak seorang pun yang menanggapi ide Homer, tapi Homer tidak menyerah.

Usaha Homer tidak berjalan mulus. Roket pertamanya menghancurkan pagar yang baru saja dibeli ayahnya, setelah bersusah-payah mengumpulkan uang cukup lama. Homer pun dilarang membuat roket lagi. Diam-diam, Homer tetap membuat roket, bekerja sama dengan ketiga teman sekelasnya dan dukungan gurunya, Miss Riley.

Setelah berkali-kali gagal dan sempat dijebloskan ke penjara karena polisi setempat salah mengira, roket buatan mereka telah menimbulkan kebakaran hutan, Homer pun berhasil membuat tiruan roket yang benar-benar bisa meluncur dengan baik. Sayangnya, Miss Riley yang sakit parah dan telah berhenti mengajar, hanya dapat menyaksikan peluncuran roket yang dibuat Homer dan ke-3 temannya dari jendela kamarnya, tempat Miss Riley berbaring sekarat.

Roket yang dibuat Homer dan kawan-kawan berhasil memenangkan penghargaan dalam kompetisi sains nasional. Mereka akhirnya berhasil meraih beasiswa di universitas sehingga nasib mereka tidak perlu berakhir sebagai buruh tambang batu bara dengan paru-paru berlubang. Kiprah mereka membuat penduduk Coalwood memiliki pilihan masa depan yang lebih baik.

Dari Homer Hickam dan ke-3 temannya, saya belajar, bahwa dalam hidup, kita kadang memang harus keras kepala dan tidak boleh menyerah dalam memperjuangkan apa yang ingin kita raih. Gagasan awal yang mulanya terdengar naïf, sembrono, dan terlalu ‘tinggi’, jika benar-benar diwujudkan, tidak saja dapat mengubah nasib kita, bahkan juga – nasib orang-orang di sekeliling kita.

0 komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

Pengikut Blog Ini

Statistik Pengunjung Blog

Waktu Saat Ini


ShoutMix chat widget

Links


pYzam Page Pets
FreeFlashToys Page Pets